Di suatu masa waktu aku bekerja di GPM, aku dapat tugas untuk mengurus kedatangan barang consumable stillage tank. Bukan tugas yang berat sih karena memang sudah tugasku dan bukan hal itu yang akan diposting di blog ini. Tapi dari tugas itu akhirnya aku harus turun ke Tanjung Karang ditemani senior dan seorang driver. Nah apa sih gosip murahannya??
Jadi begini (geli juga sih tangan kalo nggak ditulis) di mobil cerita-cerita sama driver and senior. Sampailah cerita dimana kalo saat tutup giling di GPM pernah mengundang artis dangdut sebut saja D*** *ER*** (maaf memang dibintang-bintang soalnya walaupun katanya udah era bebas, reformasi gituh tapi ternyata masih sering juga orang-orang -yang nggak ngerti era kebebasan tapi sok tahu- teriak teriak namanya dicemarkanlah atau apalah padahal yang ditulis fakta. Nah sebelum manggung di GPM si artis ini dijemput dari bandara. Selama perjalanan dari bandara ke site ternyata sodara sodara si artis ini mengompol. Kata drivernya sih udah nggak tahan. ” Maaf ya mas” gitu kata si artis. Ya emang sih dibersihkan tapi ya ampun memangnya sampai begitunya ya. Sampai mengompol di jok mobil padahal usia sudah lebih dari 20 tahun.
Nah postingnya memang tidak berguna tapi geli juga sih masak sudah tua mengompol pula. Kalau menurutku sih ya di jalan itu kan pom bensin banyak, rumah makan juga banyak atau bahkan kalau terpaksa banget dan memang tak tertahankan kan semak-semak juga ada tapi kenapa gitu kenapa harus mengompol. Memangnya mau saingaan sama anak bayi.
Sudahlah posting ini isinya memang tak berguna tapi risih juga kalo nggak di posting.
Peace !!!
Gossip Murahan
•February 21, 2009 • Leave a CommentLebung dan Payroll
•February 18, 2009 • 2 CommentsWarning : tulisan ini memang dibuat agar tidak nyambung karena sedang stuck ide >>> he he he he he
Di tempatku bekerja, salah satu sumber irigasi untuk tanaman tebu adalah air yang berasal dari lebung. Waktu tahu hal itu, langsung ada ketertarikan untuk menuliskan tentang lebung di blog ini. Wajar saja masalahnya irigasi termasuk salah satu ilmu yang dipelajari di jurusanku, teknik pertanian, walaupun tidak secara mendalam. Lebung itu sendiri merupakan cekungan tanah yang terisi dengan air hujan. Ada juga yang biasa menyebutnya “lebak”. Kondisi fisiknya sejauh pengamatanku selama hampir 3 bulan bekerja disini, mirip dengan rawa. Secara imajiner bisa dibayangkan cekungan yang berisi air yang di cekungan tersebut masih banyak tanaman-tanaman yang tahan hidup di air. Sebagai sumber air irigasi masih diperlukan usaha untuk bisa mengalirkan air dari lebung ke tanaman. Ditempatku bekerja digunakan pompa untuk mengalirkan air tersebut. Selain itu untuk menjaga agar jumlah air tetap mencukupi (air tidak pergi karena faktor ketinggian tempat) dibuatlah sekat untuk lebung. Secara keseluruhan lebung bisa disekat menjadi beberapa bagian dan setiap bagian bisa digunakan untuk mengairi petak tanaman tebu secara lebih merata dibandingkan dengan pada waktu lebung belum dibangunkan sekat.
Untuk perawatan lebung agar bisa digunakan secara kontinu mengairi petak tanaman tebu, biasanya diadakan penggalian endapan dan pembersihan tanaman yang ada di tengah lebung. Dengan begitu volume air yang tertampung akan lebih banyak dan efeknya air yang terdistribusi untuk irigasi juga lebih banyak.
Selain ada yang disebut lebung ada juga yang disebut payroll. Payroll itu tempat pembayaran gaji untuk pekerja harian. Pembayaran gaji dilakukan setiap satu minggu sekali pada hari sabtu. Setiap sabtu payroll jadi tempat yang lumayan asyik untuk dikunjungi (di site SGC maksudnya) karena banyak orang berkumpul disana dan banyak orang jualan. Pokoknya mirip seperti pasar kaget. Ada penjual buah, baju, aksesoris, makanan ya lumayan lengkap untuk ukuran site-nya plantation tebu. Yang datang ke situ nggak cuma pekerja harian saja, ada banyak karyawan lain dari manajer plantation, officer sampai pekerja lain yang sering datang ke situ. Biasanya aku sama teman-teman main ke situ untuk berbagai macam kegiatan. Entah durenan (makan duren), mie ayaman (makan mie ayam) atau bisa juga baksonan (makan bakso).
Foto di Payroll

Gue Berani Bermimpi
•February 10, 2009 • Leave a CommentKemarin waktu pergi ke Bandung dapat beberapa e-book (bajakan yang pasti) dari temanku yang kuliah di ITB. Lumayan banyak juga. Bahkan ensiklopedia juga ada. Salah satu buku yang menarik untuk dibaca adalah buku yang berjudul “D*re to Dr**m”. Semacam buku motivasi gitu. Walaupun berbahasa Inggris, setelah aku mencoba membacanya ternyata penjelasannya lumayan runtut dan ilustrasinya dengan kata-kata jelas sehingga mudah dipahami. Pokoknya kalau dibandingkan dengan buku “Introduction to Fluid Mechanics” – dengan halaman yang bisa dijadikan bantal – jauh banget deh. Aku posting aja per bagian aku selesai membaca. Rencananya sih untuk pengingat menyemangati diri dan biar lebih bisa kuintepretasikan dengan gayaku sendiri.
Bagian 1 Mengatasi Penundaan
Biasanya kalau kita punya tugas berat kita memandang tugas itu secara holistik. Berat !!! Itu yang biasa terpatri dalam diri kita. Akibatnya sering kita tunda mengerjakan tugas tersebut. “Ntar aja ah !” atau “Kan bisa nanti”. Padahal semakin ditunda dan akan semakin malas juga kita mengerjakannya. Karena itu cobalah untuk TIDAK MELIHAT TUGAS ITU SECARA KESELURUHAN. Mulailah untuk melihat tugas itu dari langkah per langkah. Ketika kita sudah mulai semangat untuk memulai seseatu pertahankan dan lakukan secara kontinu. Lama-lama tugas itu akan selesai dengan sendirinya. Kalau diilustrasikan mirip peribahasa Indonesia dan pepatah China.
Kalau peribahasa Indonesia bilangnya gini “berdikit-dikit lama-lama menjadi bukit”. Nah kalau pepatah China seperti ini “perjalanan seribu kilometer (atau seribu apa saya lupa) dimulai dari satu langkah”.
Watashi no Okachan da yo !!
•February 5, 2009 • 2 CommentsThank You Mom …
Memang hari ibu sudah lama berlalu tapi tidak ada salahnya untuk terus berterima kasih sama ibu yang telah banyak berkorban untuk kita. Rencananya sih mau ditulis pas momen hari ibu. Cuma karena keterbatasan sarana jadinya baru bisa ditulis sekarang. Tulisan ini dibuat karena ingat lagu Celine Dion yang judulnya Goodbye the Saddest World. Lirik lagunya seperti ini :
You gave life to me
Turned a baby into a lady
Mamma
All you had to offer
Was the promise of a lifetime of love
Now I know
There is no other
Love like a mother’s love for her child
And I know
A love so complete
Someday must leave
Must say goodbye
Goodbye’s the saddest word I’ll ever hear
Goodbye’s the last time I will hold you near
Someday you’ll say that word and I will cry
It’ll break my heart to hear you say goodbye
Mamma
You gave love to me
Turned a young one into a woman
Mamma
All I ever needed
Was a guarantee of you loving me
‘Cause I know
There is no other
Love like a mother’s love for her child
And it hurts so
That something so strong
Someday will be gone, must say goodbye
Goodbye’s the saddest word I’ll ever hear
Goodbye’s the last time I will hold you near
Someday you’ll say that word and I will cry
It’ll break my heart to hear you say goodbye
But the love you gave me will always live
You’ll always be there every time I fall
You offered me the greatest love of all
You take my weakness and you make me strong
And I will always love you ’til forever comes
And when you need me
I’ll be there for you always
I’ll be there your whole life through
I’ll be there this I promise you, Mamma
Mamma, I’ll be
I’ll be there through the darkest nights
I’ll be the wings that guide your broken flight
I’ll be your shelter through the raging storm
And I will love you ’till forever comes
Goodbye’s the saddest word I’ll ever hear
Goodbye’s the last time I will hold you near
Someday you’ll say that word and I will cry
It’ll break my heart to hear you say goodbye
‘Till we meet again…
Until then…
Goodbye
Kalau dengar lagu itu masih saja nangis padahal lagu itu sudah lama trus aku sudah dengar berulang-ulang. Lagu itu tentang seseorang yang kehilangan ibunya dan disitu dipaparkan bagaimana dia berterima kasih kepada ibunya karena apa yang telah dilakukan ibunya untuk dirinya. Betapa mengharukan. Cobalah untuk meresapi apa yang ada di lagu tersebut dan terapkan pada dirimu. Sungguh sudah banyak orang di sekitarku yang menangis karena mendengarkan lagu itu dan meresapi kata-kata yang ada di lagu tersebut.
Sungguh….Laki-laki Memang Busuk
•February 3, 2009 • 3 CommentsWaktu di Bandung, temanku merekomendasikan untuk membaca sebuah buku. Sungguh buku ini meninggalkan kesan mendalam untukku. Buku karangan Asma Nadia yang judulnya Catatan Hati Seorang Istri. Sumpah !!!! Isi dari buku tersebut membuatku yang seorang wanita ini marah dan jengkel. Betapa disitu digambarkan mudahnya laki-laki bahkan yang notabene sudah “shalih” selingkuh dengan wanita lain. Hal-hal yang bisa aku catat dari buku tersebut adalah :
Dalam buku tersebut ada line “kalau saya menikah lagi, itu murni karena saya suka dengan gadis itu. saya jatuh cinta” (kurang ajar banget sih lelaki). Kalo pada mau poligami bilangnya sih sunnah Rasul tapi kok pendapatku ya biar bagaimana itu hanyalah BUL**HIT. Memangnya dia nggak mikir perasaan istri pertamanya kalo harus berbagi. Enak banget laki-lakinya. Memang sih kalau ikhlas istrinya bakal dapat surga tapi sebagai wanita yang normal bukan (maaf) “celestial being” pasti kan ya sakit hati. Ikhlas itu akan amat sangat sangat sangat sangat susah sekali.
Laki-laki itu memang aneh bahkan ketika sudah mendapatkan wanita yang “paket komplit”. Sumpah nggak habis pikir jika laki-laki selingkuh padahal di rumah ada istri yang cantik, baik, hanif dsb dsb. Astaghfirullah.
Jangan tertipu dengan penampilan dan keseharian yang hanif dari laki-laki. Di buku itu disebutkan ada seorang istri yang punya suami yang pengertian, penuh cinta, baik, bersikap manis sama istri dan anak-anak, romantis pokok kata bersikap sebagai “gentleman” pada istri dan anak-anak. Tambah lagi orangnya serius dan pendiam. Bagaimana bisa orang yang seperti itu ternyata selingkuh. Bukankah walaupun suami sudah berubah tapi bayangkan saja bagaimana sulitnya seorang istri untuk bisa mempercayai lagi suaminya.
Biasanya istri yang memilih bertahan walaupun tahu suaminya selingkuh adalah karena mempertimbangkan kebahagiaan anak-anak. Plis deh memang perempuan nggak berhak bahagia. Disakiti sedemikian rupa dan perempuan juga yang harus berkorban.
Ngeri juga sih baca buku itu. Banyak teman-teman putri yang juga marah baca buku itu. Ternyata seperti itu ya laki-laki itu.
Goes to Bandung
•January 3, 2009 • 2 CommentsAkhir tahun banyak liburan. Kalaupun kantor berangkat pasti harinya “kecepit” diantara 2 hari libur. Aku akhirnya memutuskan untuk pergi dari site menghilangkan rasa penat dari pekerjaan kantor. Karena belum berani pulang(takut nggak balik lagi ke Lampung) akhirnya kuputuskan pergi ke tempat temanku di Bandung. Ihh nekat banget akunya. Pertama kali sih semangat gitu, keluar dari sitenya lumayan gampang tapi sampai Bandarlampung pas nunggu di pool DAMRI rasanya sungguh tak karuan. Gimana ya pengen nangis aja. Sendiri, malam-malam, perempuan pula. Tapi mencoba mengatasi semuanya. Aku bisa..aku bisa..aku bisa teriakku berulang-ulang di dalam hatiku.
Setelah naik di bus rasanya sudah lumayan baikkan. Tapi…Gosh….jaketku ketinggalan. Mana dingin ini. Tapi nggak pa pa ada selimut kok. Dimulailah perjalananku ke Bandung. Di dalam bus sih biasa aja, tapi aku nahan pipis lamaaa banget. Waktu itu udah masuk ke kapal feri penyeberangan. Nggak kuat lagi rasanya. Mau keluar dari bus ingat cerita orang-orang mana yang ntar ditodonglah pisaulah, banyak orang jahatlah. Tapi kuberanikan diri keluar ke dermaga lihat kapal dan cari toilet. Ketemu. Lega juga. Trus bisa nerusin tidur. Merem melek lihat kondisi di luar, sampai Jakarta bangun lihat-lihat kondisi kota di waktu pagi. Lumayan sebenarnya. Cuma kalau siang kok ngeri banget and panasnya minta ampun. Masuk Bandung udaranya udah dingin. Di luaran kota lumayan hijau. Sampai Bandung udah jam 07.30. Bus DAMRInya lumayan telat sampai di Bandungnya. Aku naik taksi ke daerah ITB gitu trus dijemput temanku.
Hari pertama di Bandung langsung jalan-jalan ke Salman ITB. Wah adem disana. Arsitekturnya kayu semua. Tapi ya dibandingin Salahuddin kok rasanya Salman lebih sederhana ya. Tapi forget about that. Trus kami (aku sama temanku) pergi ke Bandung Electronic Center (BEC). Jalan-jalan sambil ngiler lihat lepie. Bosan di BEC beraih ke Gramedia. Cuma lihat-lihat. Sebenarnya sih mau cari novel Agatha Christie yang aku belum punya tapi ternyata di Gramedia Bandung stock Agatha Christie sudah habis. Kecewa sih tapi besok lagi deh cari entah dimana. Pulang dari Gramediia sudah sore banget jadi sudah nggak pergi kemana-mana lagi.
Besoknya kami pergi ke Pasar Baru. Cari-cari item yang lumayan butuh mumpung masih bisa. Capek puter-puter di Pasar Baru, kami pergi ke kota Kembang. Jalan-jalan keluar masuk toko. Habis dari situ kami pergi ke alun-alun kota Bandung. Lihat-lihat sambil ambil foto buat kenangan sudah pernah sampai alun-alun kota Bandung.
Hari ketiga di kota Bandung. Tambah lagi temanku yang ikut jalan-jalan. Kemarin dia tidak bisa ikut gara-gara flu. Sekarang dia sudah lumayan jadi kami bisa jalan-jalan bareng. Jadwal hari itu kami pergi ke Lembang. Jalannya naik-naik, udaranya dingin segar. Ke kebun stroberi tujuan kami. Petik Stroberi sendiri trus minum jus stroberi. Sempat nyobain “flying fox” ternyata rasanya lumayan biasa aja. Nggak terlalu menakutkan. Pulang dari situ kami hendak pergi ke museum geologi Bandung. Eh …. ternyata tutup. Ya sudah jalan-jalan aja di seputaran Gedung Sate trus makan nasii bakar di belakang gedung itu. Habis makan pergi ke Toga Mas. Lagi ada diskon besar-besaran. Beli-beli aja. Ternyata uang tunainya habis. Untuk bisa bayar pake kartu ATM. Kalo enggak kan malu.
Menginjak hari ke empat (emang hari bisa diinjak???) aku menginap di tempat teman akrabku di SMA. Sesi temu kangen gitu. Cerita banyak-banyak trus dilihati daerah (mantan) kampusnya. Nah balik dari situ, aku sudah merasa nggak enak badan. Akhirnya aku flu. Hari ke lima cuma jalan-jalan lagi di ITB sambil temu kangen. Trus hari ke enam juga cuma tidur-tiduran memulihkan stamina.
Lumayan juga sih liburanku ke Bandung. Kotanya enak dalam artian sebenarnya sejuk dan indah. Hanya saja sudah banyak orang berada di kota ini sehingga suasana sumpek sudah tidak bisa dihindarkan. Kendaraan banyak lalu lalang padahal jalannya sempit. Banyak factory outlet disini. Kemana saja mata memandang, pasti ada berbagai macam factory outlet. Sudah gitu anak-anak disini suka dandan abis. Modis, stylist and merkist. Nggak peduli pengamen, anak-anak yang nunggu kios, pedagang pasar, mahasiswa sampai anak-anak high class semuanya pasti bergaya. Menurutku ya kayak Shibuya atau Ropongi di Jepang (emang pernah ke Jepang???). Trus budaya naik angkotnya juga tinggi. Semuanya naik angkot. Apalagi di seputaran ITB situ. Banyak yang jalan kaki. Sampai sandalku putus gara-gara kebanyakan jalan kaki. Bandung sungguh meninggalkan kesan yang tidak bisa dilupakan buatku.

This Love Lyrics
•December 30, 2008 • Leave a CommentThis Love Lyrics
Angela Aki
“ai ga areba heiwa da” to dare ka ga kuchi ni shite
ita
unazuku hito mo ireba, utagau hito mo iru
kurushimi ga aru kara koso anata wo dakishimeru toki
sono ude no yasashi sa wo heiwa to kanjiru no deshou
aru toki kara mukuchi ni nari kokoro wo shimekiri
kono koi ga hikisakaresou ni natta
kasaneta kono te wo
kondo wa hanasanai
shinjiru chikara ga
ai wo jiyuu ni suru
yuujou ni sukuwaretari, mirai wo souzou shitari
shiawase wa mieru keredo jibun wo miru koto wa nai
yakusoku to iu watashi tachi no konpasu dake de wa
kono koi wa hougaku wo miushinau no
kiseki wo matsu yori
kono te wo tsunagitai
shinjiru chikara ga
watashi wo jiyuu ni suru
kono koi wo osorezu ni
You don’t have to fear this love, this love
kasaneta kono te wo
kondo wa hanasanai
shinjiru chikara ga
ai wo jiyuu ni suru
kiseki wo matsu yori
kono te wo tsunagitai
shinjiru chikara ga
watashi wo jiyuu ni suru
STO Irigasi
•December 29, 2008 • 4 CommentsMinggu kemarin tanggal 14 Desember tumben-tumbennya ada PHL untuk anak audit. PHL itu pengganti hari libur. Ditempatku bekerja kalau belum satu tahun belum dapat cuti. Kalau mau libur bisanya ITB (ijin tanpa bayar) atau ngumpulin PHL. Ditawari sama senior akhirnya ikut juga. Pikirku lumayan bisa dapat satu hari libur. Awalnya sih bingung STO itu ngapain. Tapi setelah sampai di lapangan, lumayanlah …. jadi ngerti dikit-dikit.
Pagi itu mister Nur, drivernya audit, udah jemput di rumah jam 7 kurang dikit. Malam sebelumnya udah dibilangin mesti bawa topi, siap-siap pake penutup muka, pake lotion anti nyamuk pokoknya kayak mau ke lapangan yang medan berat gitu. Karena dibilang pake kemeja aku nurut aja pake kemeja, pinjam penutup muka and topi yang lumayan kayak topi pantai. Begitu melihat teman-teman lain cuma bawa kaos iiih… jadi ngerasa saltum (salah kostum). Yo wes pede aja pikirku. Habis itu bareng temen-temen lain ngabsen dulu di kantor, trus langsung cabut ke kantor irigasi. Setelah pembagian tugas, kami berangkat ke lokasi masing-masing. Aku dapat jatah STO di divisi IV. Dekat Housing II gitu lokasinya. Nah disini ternyata kegiatannya biasa aja. Nggak perlu persiapan yang mendetail kayak mau survay kemana gitu soalnya kegiatannya cuma di sekitar gudang penyimpanan alat-alat irigasi. Kegiatannya sih lumayan ringan kalau menurutku soalnya cuma menghitung stok yang ada di divisi itu. Tapi karena stoknya lumayan banyak jadi ngitungnya juga lama. Bapak pekerja di divisi IV (tempatku menghitung stock barang irigasi) juga helpful banget. Pokoknya baik deh. Acara STOnya juga nggak lama jam 12 kurang sedikit sudah selesai. Setelah ngabsen lagi ke kantor akhirnya pulang. Ternyata biasa saja kegiatannya.
Lalu Dimulailah Drama Itu ………..
•December 17, 2008 • 2 CommentsMulai tanggal 1 November 2008 resmi sudah aku meninggalkan pulau Jawa dan tinggal di Lampung. Tempat tinggalku resminya di komplek perumahan Gula Putih Mataram housing I. Awalnya tinggal di mess B. Mess untuk menampung tamu dan karyawan baru (officer dan supervisor). Selama satu bulan tinggal di mess. Di mess lumayan. Kekeluargaannya sama messboy dan sesama penghuni mess tinggi. Lokasi mess yang dekat dengan lebung membuat banyak hewan-hewan kecil entah kepik, nyamuk atau entah hewan apa namanya yang mampir di mess. Apalagi pintu mess tidak pernah ditutup sehingga hewan-hewan itu bebas keluar masuk. Selain hewan-hewan kecil banyak juga kucing disini. Tidak cuma kucing liar ada juga kucing peliharaan bapak yang rumahnya di depan mess. Kucingnya gemuk peranakan kucing Angora sama kucing kampung namanya Boni. Sayangnya kucingnya agak nakal. Makanan sehari-hari kalau masih tinggal di mess disuplai sama perusahaan.
Sayangnya (atau malah kabar baiknya) mess itu hanyalah tempat tinggal sementara. Begitu ada rumah yang kosong maka penghuni mess secara bertahap akan dipindahkan ke rumah. Setelah 3 minggu keluar kabar bahwa jatah rumah untukku ada di C-10. Disini (GPM), komplek perumahan dibagi menjadi 6 subkomplek. Ada komplek A, B, C, D, E, dan F. Jatah perumahan untuk officer biasanya dari komplek C-E dengan aturan komplek yang lebih awal harus terisi penuh dulu. Daripada dipanggil manajer administrasi gara-gara tidak segera pindah dari mess (seperti pengalaman senior yang dipanggil dan dimarahi gara-gara tidak mau/belum sempat membersihkan mangga jatuh dan daunnya di halaman rumahnya) seminggu setelahnya aku menyeret koper ke C-10. Penghuni lama “welcome” banget. Tapi di rumah kita mesti cari makan sendiri. Pertama kali memutuskan untuk memesan katering. Bosan dengan katering akhirnya memutuskan untuk memasak sendiri. Walaupun kadang gosong, kurang asin, kurang matang atau terlalu matang tapi tetap bisa dimakan karena toh biar bagaimanapun itu masakan sendiri. Sampai saat tulisan ini dipublikasikan di blog, aku masih tinggal di C-10 dan menikmati saat-saat bekerja di central audit Gula Putih Mataram.






Recent Comments