Kadang Muslimah Nemu Kasus Kayak Gini …. (Bikin Jengkel Alert !!!)

•April 25, 2009 • Leave a Comment

Sebenarnya kumpulan kalimat ini diambil dari buku fiksi, semacam kumpulan cerita yang desain sampulnya bikin ngakak. Entah ya kok salah satu ide cerita di  buku itu cocok sama yang aku pikirkan. Nah ini diambil dari novel Ayat Amat Cinta, bagian Gadis Pilihan Ayat oleh Asma Naadia. Dari halaman 214. Ceritanya sih tentang si Ayat seorang apa ya ikhwan keren (cakep, punya pekerjaan oke, mapan dsb dst). Nah dia itu lagi cari calon istri. Tapi nggak nemu-nemu karena kriterianya yang tinggi. Ini ada beberapa paragraf yang aku ambil yang pas bener sama apa yang kupikirkan.

Sebetulnya sudah banyak teman-teman muslimahku yang komentar soal kecenderungan teman-teman muslim yang maunya hanya dengan yang cantik-cantik, yang putih, yang tinggi, ya ….kayak Ayat itu. Yang lebih parah lagi juga banyak. Kalo Ayat mungkin rada wajar juga, mengingat tongkrongannya yang keren habis. Nah ikhwan yang nuntut punya istri cantik dan lain-lain padahal dianya biasa saja atau malah kurang dari biasa lebih banyak lagi. Barangkali rada kasar juga ya ..kalau dibilang nggak ngaca? Atau nggak tahu diri? Aduhhh sadis amat! Tapi mereka juga sadis. Mengalahkan kecantikan dalam, kecantikan hati untuk seseatu yang akan pudar ditelan masa. Sementara itu di sisi lain seolah ada semacam keharusan bagi muslimah untuk menerima setiap lelaki shalih yang datang melamarnya, tanpa boleh melihat fisik sama sekali. Nah ini kan nggak adil. Tapi salahnya muslimah juga kali ya? Mau diperlakukan begitu. He he he he

Nah itu tuh. Nanti kalo ada muslimah yang berani nolak lelaki yang kayak gitu dibilangnya sombong, sok-sokan dan sebagainya. Sembrono, nanti kena kutuk jadi perawan tua … kapok lu. Yah begitulah akhirnya muslimah lagi yang kena. Padahal kalau misalnya dipikir dalam keadaan yang logis ya wajar saja kalau seorang wanita menginginkan calon suami yang sepadan. Memang sih kriteria memilih pasangan hidup yang utama adalah agama tapi kan yang seterusnya (harta, keturunan dan fisik) boleh juga dijadikan pertimbangan setelah melihat agamanya.

Belajar dari Fajar, anak ibu katering

•April 22, 2009 • Leave a Comment

” Assalamualaikum ….. “
” Waalaikumsalam ….. bentar ya dek “

Akhir-akhir ini suara salam dari seorang anak kecil sering membuatku terburu-buru pakai jilbab dan membuka pintu. Fajar, itu namanya. Anaknya kecil, rambutnya cepak dan kulitnya hitam. Usianya kuperkirakan belum lebih dari 10 tahun. Fajar ini anak ibu Ning, ibu katering temanku. Dulu sih aku sempat katering di ibu Ning, cuma untuk lidahku yang orang Jawa asli ini (duh keluar kesukuannya) kurang cocok sama masakan ibunya yang ditambah seseatu jahe-jahean gitu yang pada dasarnya nggak match di lidahku. Nah balik ke Fajar. Beberapa waktu terakhir dia aktif sekali bantu ibunya nyebarin katering ke housing teman-teman kantor, termasuk ke housingku. Nah di saat-saat itu ada peristiwa yang bikin aku terhenyak dan mau nggak mau kubandingkan dengan keadaanku. Pada suatu hari ketika hujan lebat-lebatnya (hujan di kebun tebu sering nggak main-main, biasanya geledeknya lebih ngeri) dia masih tetep bantu ibunya ngantar katering ke housingku. Betapa kagetnya aku sehabis Maghrib itu ketika di tengah hujan lebat dengar salam dari anak kecil dan ketika membuka pintu kutemukan seorang anak kecil membawa kotak makanan katering di tangan yang hitam basah kuyup kedinginan namun masih dengan polos dan senyumnya mengatakan ” ini makanannya ….. ada wadah yang bisa dibawa enggak? “
Hal ini terjadi nggak cuma sekali dua kali. Setelah aku perhatikan, Fajar memang sering bantu ibu Ning mengantar katering ke housing-housing yang memesannya. Sering kutemui dia dalam keadaan basah kuyup kedinginan tapi masih saja wajah polos itu tidak menampakkan tanda-tanda bahwa dia keberatan mengantar makanan katering itu. Bahkan ketika dia harus menunggu lama karena kami harus memakai jilbab. Sungguh jadi malu ketika aku menengok ke diriku sendiri mengingat betapa seringnya aku mengeluh masih belum bisa beradaptasi hidup mandiri walaupun sudah hampir 6 bulan tinggal jauh dari orang tua.Seorang Fajar yang masih SD saja bisa punya pikiran untuk membantu orang tuanya setidak-tidaknya belajar mengekang diri dari kemanjaan yang diberikan orang tuanya untuk bermain-main mencoba untuk belajar dewasa dengan masih tersenyum sementara aku yang umurnya sudah lebih dari dua kalinya umur Fajar masih saja “addict” sama kenyamanan rumah dan “keembok-emboken”
Tapi ya memang kalo cuma malu saja nggak akan ada perubahannya untukku. Memang rasa malu itu harus diikuti dengan keinginan untuk membenahi diri dan merealisasikannya. Makasih ya Fajar, aku banyak belajar dari keikhlasanmu, wajah polosmu yang tidak menyiratkan keberatan menghadapi keadaanmu, wajah yang tetap tersenyum walaupun yang kaulakukan adalah seseatu yang berat setidaknya untuk anak seusiamu. Terima kasih ya.

What is Happiness

•April 20, 2009 • 2 Comments

kanji-happiness-sm

Ketika aku bisa kerja di luar Jawa dan dapat kesempatan belajar mandiri seperti yang kuinginkan sejenak aku merasa bahagia. Tapi lama-lama kok rasanya jadi ada yang kurang. Merasa kadang hidup nggak adil dan aku merasa tidak bahagia. Bingung juga, apa yang kuinginkan kudapatkan tapi hanya kesenangan sesaat. Kok nggak lama gitu. Mungkin sesuai naturenya manusia kali ya, yang nggak pernah puas pada keadaan. Yah iseng-iseng aku tanya-tanya sama teman-teman kantor dan beberapa sumber lain. Apa sih sebenarnya kebahagiaan. Nah seorang teman kantor pernah bilang, kalo kebahagiaan baginya berarti dia bisa mengurus orang tuanya dan hidup secara cukup. Nggak mesti berlebihan dalam hal finansial tapi setidaknya untuk dia dan orang tuanya bisa hidup secara layak untuk kesehariannya.
Di suatu masa yang lain seorang teman yang sudah nyaman dengan status PNS nya berapi-api menasehati. Katanya kepadaku ” apa sih yang kau kejar, bagiku asal aku bisa cukup dan mampu beramal itu aku sudah bahagia. Nggak usah lihat orang lain yang sukses sampai ke luar negeri. Keadaan masing-masing orang nggak sama. Kita ini perempuan, asal mencukupi kebutuhan kita, sudah beramal dan membahagiakan orang tua, itu saja sudah cukup “
Beda lagi sama salah seorang temanku SMA. Kalo bagi dia kebahagiaan itu ya kalau dia sudah bisa mengumpulkan uang banyak. Pokoknya yang penting duit.
Nah penasaran ya udah tanya eyang Google buat cari definisi Happiness tapi kok nggak nemu yang ok untuk dicocokkan ma yang pengen aku tahu ya. Ya sudah akhirnya buka saja kamus dan cari definsi ato tepatnya arti happiness. Nah ada yang cocok. Happiness results from the possession or attainment of what one considers good. Nah berarti kebahagiaan itu bersifat terbuka. Tergantung dari masing-masing orang. Frase -of what one- bukan -of what everyone- mengimplikasikan bahwa bisa jadi kebahagiaan seseorang belum tentu menjadi kebahagiaan bagi orang lain. Jadi begitu ya. Yah …. berarti aku harus mendefinisikan kebahagianku sendiri karena aku berbeda, karena setiap orang berbeda. Bisa jadi yang membuatku bahagia hanya biasa saja untuk orang lain. Setiap orang unik kok. Setiap orang bebas mengekspresikan diri selama tidak mengganggu kepentingan umum (bukannya begitu, eh???!!). Jadi lets define our own happiness and keep fight to possess it.

Gue (kayak) Buruh Tebang

•April 18, 2009 • 6 Comments

buruh_tebang

Baru saja kemarin hal ini terjadi. Kebetulan hari Kamis, bosku pulang cepat ke *ak**ta. Nah anak-anak yang mau minta tanda tangan mesti cepet-cepet soalnya waktu dia terbatas sampai sebelum jam 12. Intinya jam 1 dia harus sudah hengkang dari site. Kebetulan aku termasuk salah satu pengantri. Aku ikut saja antri. Trus selesai antri ternyata jam sudah menunjukkan jam 12 lebih bahkan sudah jam 12.30 lebih. Parahnya anak-anak juga baru sadar kalo mobil yang biasa buat antar jemput lagi dipakai ke PT ILP dan belum pulang. Kelimpungan juga soalnya jam segitu sudah nggak ada tebengan, karyawan lain sudah pada pulang semua. Awalnya sih kami duduk-duduk di depan kantor. Lama-lama semakin stuck nothing to solve gitu akhirnya beberapa orang memutuskan untuk tidak pulang. ya sudah nunggu aja di kantor kata mereka. Aku dan sebagian teman yang lain masih bertahan di depan kantor. Pandang memandang, pandangan kami terpentok pada dua buah mobil bak terbuka di depan kantor. Mobil perusahaan itu. Ya sudah entah ide datang dari siapa kami akhirnya memutuskan pulang dengan meinta driver mobil itu mengantar kami. Tempat di depan cuma 3 padahal kami berdelapan. Mau nggak mau 5 orang mesti duduk di belakang. Aku termasuk golongan 5 orang yang duduk di belakang.Wuiih debunya minta ampun. sudah gitu anginnya lumayan wusshh. Tapi asyik juga rame-rame duduk di bak belakang cerita-cerita. Memang sih jaraknya nggak jauh jadi nyaman-nyaman saja. Coba belasan kilometer. Pasti ampun deh.

Gue Berani Bermimpi (part II)

•April 11, 2009 • Leave a Comment

Wah pake part II segala, iya sih masalahnya ini terusan postingan yang pertama.
Bagian 2 Dimana Kamu Bisa Menemukan Apa Yang Kamu Inginkan
Bayangkan rasanya waktu dulu kita mau pendadaran. Oke sih mungkin kamu bilang ‘aku baik-baik saja, ok kok. nggak deg-degan. nggak nervous’ Tapi semakin mendekati waktu pendadaran. Detak jantung akan bertambah cepat. Akhirnya jadi gugup juga. Tambah pula waktu dipanggil ke dalam ruangan untuk mempresentasikan hasil penelitian kita. Wah … pokoknya rasanya nggak enak banget. Nah teman, begitulah rasanya keluar dari apa yang disebut sebagai zona nyaman kita. Perut teraduk-aduk, detak jantung semakin cepat, gugup dsb. Orang yang sudah merasa nyaman disebuah kondisi pastinya akan mencoba mempertahankan kenyamanan itu dan  biasanya jadi males untuk bergerak ke arah yang tidak nyaman. Okelah mungkin untuk posting yang ini bahasanya kurang teratur dan kacau. Maklumlah masih di kantor. Tadi ada ultimatum dari bos belum boleh pulang. Walah malah jadi curhat, oke diteruskan ke topik. Jadi begini, orang itu ketika sudah nyaman biasanya males mencoba hal-hal yang mengganggu kenyamanan itu. Orang cenderung memilih untuk tetap merasa nyaman. Karena keluar dari zona nyaman kita itu begitu menakutkan. Padahal apa yang kita inginkan berada di luar zona nyaman kita. Apakah itu kesehatan yang lebih baik (misal dengan memaksa diri membuka mata di pagi hari untuk olahraga), cinta (misal dengan love confession), uang (misal dengan bekerja jauh dari rumah), atau sebuah tujuan pribadi yang penting untuk kita, semua yang kita inginkan menunggu diluar zona nyaman kita. Nah untuk mencapai yang kita inginkan kita harus memperlebar zona nyaman kita dengan ‘bite the bullet’ dan menapak ke zona kemungkinan kita. Awalnya tidak akan pernah nyaman tapi lama-lama kita akan terbiasa dan zona nyaman kita akan perlahan-lahan berkembang untuk dapat mencakup hal-hal yang kita inginkan dari hidup. Kemudian di lain waktu ketika kamu mengalami hal-hal yang memuakkan dengan keluar dari zona nyamanmu, jangan merasa malu dari hal itu, sebagai gantinya malah beranilah melangkah dan mengambil langkah awal menggapai apa yang kau inginkan. Faktanya ya semakin sering kita keluar dari zona nyaman kita dan mengalami pengalaman yang memuakkan itu, semakin cepat pula kita mewujudkan mimpi kita. Nah tips yang bisa kita lakukan adalah mereview tujuan dan mengenal aksi yang kau lakukan untuk mencapai mimpi itu, memutuskan untuk segera beraksi secepat mungkin, kemudian ketika sudah beraksi perhatikan bagaimana rasanya keluar dari zona nyamanmu. Yang terakhir praktekkan bagaimana membuat diri nyaman ketika keluar dari zona nyaman tersebut. Ya bisa dibilang membuat diri sendiri enjoy dengan keadaan tersebut. Kalau peribahasa sih berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Gossip Murahan

•February 21, 2009 • Leave a Comment

Di suatu masa waktu aku bekerja di GPM, aku dapat tugas untuk mengurus kedatangan barang consumable stillage tank. Bukan tugas yang berat sih karena memang sudah tugasku dan bukan hal itu yang akan diposting di blog ini. Tapi dari tugas itu akhirnya aku harus turun ke Tanjung Karang ditemani senior dan seorang driver. Nah apa sih gosip murahannya??
Jadi begini (geli juga sih tangan kalo nggak ditulis) di mobil cerita-cerita sama driver and senior. Sampailah cerita dimana kalo saat tutup giling di GPM pernah mengundang artis dangdut sebut saja D*** *ER*** (maaf memang dibintang-bintang soalnya walaupun katanya udah era bebas, reformasi gituh tapi ternyata masih sering juga orang-orang -yang nggak ngerti era kebebasan tapi sok tahu- teriak teriak namanya dicemarkanlah atau apalah padahal yang ditulis fakta. Nah sebelum manggung di GPM si artis ini dijemput dari bandara. Selama perjalanan dari bandara ke site ternyata sodara sodara si artis ini mengompol. Kata drivernya sih udah nggak tahan. ” Maaf ya mas” gitu kata si artis. Ya emang sih dibersihkan tapi ya ampun memangnya sampai begitunya ya. Sampai mengompol di jok mobil padahal usia sudah lebih dari 20 tahun.
Nah postingnya memang tidak berguna tapi geli juga sih masak sudah tua mengompol pula. Kalau menurutku sih ya di jalan itu kan pom bensin banyak, rumah makan juga banyak atau bahkan kalau terpaksa banget dan memang tak tertahankan kan semak-semak juga ada tapi kenapa gitu kenapa harus mengompol. Memangnya mau saingaan sama anak bayi.
Sudahlah posting ini isinya memang tak berguna tapi risih juga kalo nggak di posting.
Peace !!!

Lebung dan Payroll

•February 18, 2009 • 2 Comments

Warning : tulisan ini memang dibuat agar tidak nyambung karena sedang stuck ide >>> he he he he he

Di tempatku bekerja, salah satu sumber irigasi untuk tanaman tebu adalah air yang berasal dari lebung. Waktu tahu hal itu, langsung ada ketertarikan untuk menuliskan tentang lebung di blog ini. Wajar saja masalahnya irigasi termasuk salah satu ilmu yang dipelajari di jurusanku, teknik pertanian, walaupun tidak secara mendalam. Lebung itu sendiri merupakan cekungan tanah yang terisi dengan air hujan. Ada juga yang biasa menyebutnya “lebak”. Kondisi fisiknya sejauh pengamatanku selama hampir 3 bulan bekerja disini, mirip dengan rawa. Secara imajiner bisa dibayangkan cekungan yang berisi air yang di cekungan tersebut masih banyak tanaman-tanaman yang tahan hidup di air. Sebagai sumber air irigasi masih diperlukan usaha untuk bisa mengalirkan air dari lebung ke tanaman. Ditempatku bekerja digunakan pompa untuk mengalirkan air tersebut. Selain itu untuk menjaga agar jumlah air tetap mencukupi (air tidak pergi karena faktor ketinggian tempat) dibuatlah sekat untuk lebung. Secara keseluruhan lebung bisa disekat menjadi beberapa bagian dan setiap bagian bisa digunakan untuk mengairi petak tanaman tebu secara lebih merata dibandingkan dengan pada waktu lebung belum dibangunkan sekat.
Untuk perawatan lebung agar bisa digunakan secara kontinu mengairi petak tanaman tebu, biasanya diadakan penggalian endapan dan pembersihan tanaman yang ada di tengah lebung. Dengan begitu volume air yang tertampung akan lebih banyak dan efeknya air yang terdistribusi untuk irigasi juga lebih banyak.
Selain ada yang disebut lebung ada juga yang disebut payroll. Payroll itu tempat pembayaran gaji untuk pekerja harian. Pembayaran gaji dilakukan setiap satu minggu sekali pada hari sabtu. Setiap sabtu payroll jadi tempat yang lumayan asyik untuk dikunjungi (di site SGC maksudnya) karena banyak orang berkumpul disana dan banyak orang jualan. Pokoknya mirip seperti pasar kaget. Ada penjual buah, baju, aksesoris, makanan ya lumayan lengkap untuk ukuran site-nya plantation tebu. Yang datang ke situ nggak cuma pekerja harian saja, ada banyak karyawan lain dari manajer plantation, officer sampai pekerja lain yang sering datang ke situ. Biasanya aku sama teman-teman main ke situ untuk berbagai macam kegiatan. Entah durenan (makan duren), mie ayaman (makan mie ayam) atau bisa juga baksonan (makan bakso).

Foto di Payroll

di-payroll

Gue Berani Bermimpi

•February 10, 2009 • Leave a Comment

Kemarin waktu pergi ke Bandung dapat beberapa e-book (bajakan yang pasti) dari temanku yang kuliah di ITB. Lumayan banyak juga. Bahkan ensiklopedia juga ada. Salah satu buku yang menarik untuk dibaca adalah buku yang berjudul “D*re to Dr**m”. Semacam buku motivasi gitu. Walaupun berbahasa Inggris, setelah aku mencoba membacanya ternyata penjelasannya lumayan runtut dan ilustrasinya dengan kata-kata jelas sehingga mudah dipahami. Pokoknya kalau dibandingkan dengan buku “Introduction to Fluid Mechanics” – dengan halaman yang bisa dijadikan bantal – jauh banget deh. Aku posting aja per bagian aku selesai membaca. Rencananya sih untuk pengingat menyemangati diri dan biar lebih bisa kuintepretasikan dengan gayaku sendiri.
Bagian 1 Mengatasi Penundaan
Biasanya kalau kita punya tugas berat kita memandang tugas itu secara holistik. Berat !!! Itu yang biasa terpatri dalam diri kita. Akibatnya sering kita tunda mengerjakan tugas tersebut. “Ntar aja ah !” atau “Kan bisa nanti”. Padahal semakin ditunda dan akan semakin malas juga kita mengerjakannya. Karena itu cobalah untuk TIDAK MELIHAT TUGAS ITU SECARA KESELURUHAN. Mulailah untuk melihat tugas itu dari langkah per langkah. Ketika kita sudah mulai semangat untuk memulai seseatu pertahankan dan lakukan secara kontinu. Lama-lama tugas itu akan selesai dengan sendirinya. Kalau diilustrasikan mirip peribahasa Indonesia dan pepatah China.
Kalau peribahasa Indonesia bilangnya gini “berdikit-dikit lama-lama menjadi bukit”. Nah kalau pepatah China seperti ini “perjalanan seribu kilometer (atau seribu apa saya lupa) dimulai dari satu langkah”.

Watashi no Okachan da yo !!

•February 5, 2009 • 2 Comments

Thank You Mom …

Memang hari ibu sudah lama berlalu tapi tidak ada salahnya untuk terus berterima kasih sama ibu yang telah banyak berkorban untuk kita. Rencananya sih mau ditulis pas momen hari ibu. Cuma karena keterbatasan sarana jadinya baru bisa ditulis sekarang. Tulisan ini dibuat karena ingat lagu Celine Dion yang judulnya Goodbye the Saddest World. Lirik lagunya seperti ini :

 You gave life to me
Turned a baby into a lady

Mamma
All you had to offer
Was the promise of a lifetime of love

Now I know
There is no other
Love like a mother’s love for her child

And I know
A love so complete
Someday must leave
Must say goodbye

Goodbye’s the saddest word I’ll ever hear
Goodbye’s the last time I will hold you near
Someday you’ll say that word and I will cry
It’ll break my heart to hear you say goodbye

Mamma
You gave love to me
Turned a young one into a woman

Mamma
All I ever needed
Was a guarantee of you loving me

‘Cause I know
There is no other
Love like a mother’s love for her child

And it hurts so
That something so strong
Someday will be gone, must say goodbye

Goodbye’s the saddest word I’ll ever hear
Goodbye’s the last time I will hold you near
Someday you’ll say that word and I will cry
It’ll break my heart to hear you say goodbye

But the love you gave me will always live
You’ll always be there every time I fall
You offered me the greatest love of all
You take my weakness and you make me strong
And I will always love you ’til forever comes

And when you need me
I’ll be there for you always
I’ll be there your whole life through
I’ll be there this I promise you, Mamma

Mamma, I’ll be
I’ll be there through the darkest nights
I’ll be the wings that guide your broken flight
I’ll be your shelter through the raging storm
And I will love you ’till forever comes

Goodbye’s the saddest word I’ll ever hear
Goodbye’s the last time I will hold you near
Someday you’ll say that word and I will cry
It’ll break my heart to hear you say goodbye

‘Till we meet again…
Until then…
Goodbye

Kalau dengar lagu itu masih saja nangis padahal lagu itu sudah lama trus aku sudah dengar berulang-ulang. Lagu itu tentang seseorang yang kehilangan ibunya dan disitu dipaparkan bagaimana dia berterima kasih kepada ibunya karena apa yang telah dilakukan ibunya untuk dirinya. Betapa mengharukan. Cobalah untuk meresapi apa yang ada di lagu tersebut dan terapkan pada dirimu. Sungguh sudah banyak orang di sekitarku yang menangis karena mendengarkan lagu itu dan meresapi kata-kata yang ada di lagu tersebut.

Sungguh….Laki-laki Memang Busuk

•February 3, 2009 • 3 Comments

Waktu di Bandung, temanku merekomendasikan untuk membaca sebuah buku. Sungguh buku ini meninggalkan kesan mendalam untukku. Buku karangan Asma Nadia yang judulnya Catatan Hati Seorang Istri. Sumpah !!!! Isi dari buku tersebut membuatku yang seorang wanita ini marah dan jengkel. Betapa disitu digambarkan mudahnya laki-laki bahkan yang notabene sudah “shalih” selingkuh dengan wanita lain. Hal-hal yang bisa aku catat dari buku tersebut adalah :
Dalam buku tersebut ada line “kalau saya menikah lagi, itu murni karena saya suka dengan gadis itu. saya jatuh cinta” (kurang ajar banget sih lelaki). Kalo pada mau poligami bilangnya sih sunnah Rasul tapi kok pendapatku ya biar bagaimana itu hanyalah BUL**HIT. Memangnya dia nggak mikir perasaan istri pertamanya kalo harus berbagi. Enak banget laki-lakinya. Memang sih kalau ikhlas istrinya bakal dapat surga tapi sebagai wanita yang normal bukan (maaf) “celestial being” pasti kan ya sakit hati. Ikhlas itu akan amat sangat sangat sangat sangat susah sekali.
Laki-laki itu memang aneh bahkan ketika sudah mendapatkan wanita yang “paket komplit”. Sumpah nggak habis pikir jika laki-laki selingkuh padahal di rumah ada istri yang cantik, baik, hanif dsb dsb. Astaghfirullah.
Jangan tertipu dengan penampilan dan keseharian yang hanif dari laki-laki. Di buku itu disebutkan ada seorang istri yang punya suami yang pengertian, penuh cinta, baik, bersikap manis sama istri dan anak-anak, romantis pokok kata bersikap sebagai “gentleman” pada istri dan anak-anak. Tambah lagi orangnya serius dan pendiam. Bagaimana bisa orang yang seperti itu ternyata selingkuh. Bukankah walaupun suami sudah berubah tapi bayangkan saja bagaimana sulitnya seorang istri untuk bisa mempercayai lagi suaminya.
Biasanya istri yang memilih bertahan walaupun tahu suaminya selingkuh adalah karena mempertimbangkan kebahagiaan anak-anak. Plis deh memang perempuan nggak berhak bahagia. Disakiti sedemikian rupa dan perempuan juga yang harus berkorban.
Ngeri juga sih baca buku itu. Banyak teman-teman putri yang juga marah baca buku itu. Ternyata seperti itu ya laki-laki itu.