Belajar dari Fajar, anak ibu katering
” Assalamualaikum ….. “
” Waalaikumsalam ….. bentar ya dek “
Akhir-akhir ini suara salam dari seorang anak kecil sering membuatku terburu-buru pakai jilbab dan membuka pintu. Fajar, itu namanya. Anaknya kecil, rambutnya cepak dan kulitnya hitam. Usianya kuperkirakan belum lebih dari 10 tahun. Fajar ini anak ibu Ning, ibu katering temanku. Dulu sih aku sempat katering di ibu Ning, cuma untuk lidahku yang orang Jawa asli ini (duh keluar kesukuannya) kurang cocok sama masakan ibunya yang ditambah seseatu jahe-jahean gitu yang pada dasarnya nggak match di lidahku. Nah balik ke Fajar. Beberapa waktu terakhir dia aktif sekali bantu ibunya nyebarin katering ke housing teman-teman kantor, termasuk ke housingku. Nah di saat-saat itu ada peristiwa yang bikin aku terhenyak dan mau nggak mau kubandingkan dengan keadaanku. Pada suatu hari ketika hujan lebat-lebatnya (hujan di kebun tebu sering nggak main-main, biasanya geledeknya lebih ngeri) dia masih tetep bantu ibunya ngantar katering ke housingku. Betapa kagetnya aku sehabis Maghrib itu ketika di tengah hujan lebat dengar salam dari anak kecil dan ketika membuka pintu kutemukan seorang anak kecil membawa kotak makanan katering di tangan yang hitam basah kuyup kedinginan namun masih dengan polos dan senyumnya mengatakan ” ini makanannya ….. ada wadah yang bisa dibawa enggak? “
Hal ini terjadi nggak cuma sekali dua kali. Setelah aku perhatikan, Fajar memang sering bantu ibu Ning mengantar katering ke housing-housing yang memesannya. Sering kutemui dia dalam keadaan basah kuyup kedinginan tapi masih saja wajah polos itu tidak menampakkan tanda-tanda bahwa dia keberatan mengantar makanan katering itu. Bahkan ketika dia harus menunggu lama karena kami harus memakai jilbab. Sungguh jadi malu ketika aku menengok ke diriku sendiri mengingat betapa seringnya aku mengeluh masih belum bisa beradaptasi hidup mandiri walaupun sudah hampir 6 bulan tinggal jauh dari orang tua.Seorang Fajar yang masih SD saja bisa punya pikiran untuk membantu orang tuanya setidak-tidaknya belajar mengekang diri dari kemanjaan yang diberikan orang tuanya untuk bermain-main mencoba untuk belajar dewasa dengan masih tersenyum sementara aku yang umurnya sudah lebih dari dua kalinya umur Fajar masih saja “addict” sama kenyamanan rumah dan “keembok-emboken”
Tapi ya memang kalo cuma malu saja nggak akan ada perubahannya untukku. Memang rasa malu itu harus diikuti dengan keinginan untuk membenahi diri dan merealisasikannya. Makasih ya Fajar, aku banyak belajar dari keikhlasanmu, wajah polosmu yang tidak menyiratkan keberatan menghadapi keadaanmu, wajah yang tetap tersenyum walaupun yang kaulakukan adalah seseatu yang berat setidaknya untuk anak seusiamu. Terima kasih ya.

Leave a Reply