Kariage Kun

•January 6, 2010 • Leave a Comment

Akhir-akhir ini saya hobi hibernasi di kamar. Soalnya sudah beberapa waktu yang lalu tidak sengaja bluwy saya terisi sama scanlationnya manga kariage jadi bikin betah lama-lama di depan bluwy. Sebenarnya scanlation manga ini sudah lama ada kalaupun mau download. Tapi karena rencana awal memang cari second manganya ya bersikeras tidak cari link downloadnya. Lama-lama karena sudah sampe bosen cari disana-sini, pesan sana pesen sini, mana yang katanya mau kasih info tapi kok sudah 4 bulan vakum tanpa secuil smspun ya saya menyerah, saya klik link download yang ketemu secara tidak sengaja itu. Manga karya Masashi Ueda ini sudah tidak diterbitkan lagi cetakan barunya. Makanya kalau mau baca versi cetaknya bisanya cari di tempat penjualan buku bekas atau di tempat sewa komik. Tapi jangan salah, komik secondhand kariage termasuk barang most wanted loh. Sudah jadi barang incaran kolektor. Kariage kun begitu judulnya di komik bahasa Indonesia. Komik ini menceritakan tentang seorang pemuda yang bernama Kariage yang bekerja di perusahaan swasta yang bernama PT Honnyara. Yang jadi menarik dai manga ini adalah tingkah laku Kariage yang jahil. Selalu saja iri jika melihat ada yang lebih beruntung daripada dia. Ada saja kejahilan-kejahilan kariage yang dijamin bisa membuat tertawa dan betah membaca manga ini lama-lama. Memang tak jarang cerita dalam manga ini juga memasukkan unsur kritik sosial pada kehidupan masyarakat Jepang. Tapi dijamin manga ini bisa jadi penghibur kalau sedang stress sama pekerjaan. Dengan penampilan 4 komanya yang 1 cerita hanya terdiri dari 4 panel membuat kita tidak perlu membaca berlembar-lembar untuk bisa memahami apa yang diceritakan oleh pengarang. Recommended untuk dibaca pada waktu sela yang sempit namun butuh hiburan yang cukup segar dan lucu.

Menjadi Seorang Vegetarian

•January 4, 2010 • Leave a Comment

Di tahun terakhir kuliah saya di Gadjah Mada, saya mulai tertarik dengan green life dan semua hal yang berbau menyelamatkan bumi dari pemanasan global. Dari seringnya membaca artikel dan browsing di internet mengenai topik tersebut, saya jadi tahu kalau salah satu penyumbang gas metan terbesar ke udara adalah sektor peternakan. Oleh karena itu sebagai bentuk kepedulian kita pada isu ini jadilah seorang vegetarian. Tertarik dengan topik ini saya mulai memikirkan untuk menjadi seorang vegetarian. Toh hanya makan sayur dan bukan yang aneh-aneh, masih bisalah saya lakukan tanpa banyak merepotkan orang tua begitu pikiran saya. Mulailah saya rajin membaca artikel mengenai vegetarian. Sayangnya artikel-artikel yang saya kumpulkan dahulu masih di komputer rumah jadilah saya menulis tulisan ini dengan banyak lupa.
Menjadi vegetarian ternyata tidak sesederhana yang saya pikirkan. Vegetarian tidak semudah makan bahan makanan non hewani saja. Memang pada dasarnya seorang vegetarian  mengikuti pola makan nabati tertentu, yang dimaksudkan dengan nabati tertentu disini adalah buah-buahan, sayuran, padi-padian, kacang-kacangan, biji-bijian dengan atau tanpa produk peternakan dan telur. Namun bukan berarti seorang vegetarian tidak memakan daging dan turunannya. Ada berbagai macam pola vegetarian. Yang bisa saya temukan di Wikipedia ada sekitar 4 jenis.

  1. Lacto-ovo vegetarian yaitu seorang vegetarian yang tidak makan daging, daging unggas, ikan tapi masih makan produk turunan dari bahan-bahan tersebut. Jadi vegetarian jenis ini masih makan telur, susu, mentega, keju,dan madu.
  2. Lacto vegetarian, vegetarian yang masih makan susu, mentega, keju, madu maupun produk turunannya tapi tidak makan daging dan telur.
  3. Ovo vegetarian adalah vegetarian yang masih makan telur, madu dan produk turunannya. Pada kelompok ini mereka tidak makan daging dan susu.
  4. Yang terakhir adalah vegan, kelompok ini hanya makan makanan nabati saja. Yang berarti segala bentuk daging, ikan, telur, susu, madu dan turunanya mereka sudah tidak makan lagi.

Selain kelompok vegetarian yang sudah disebutkan di atas biasanya ada jenis-jenis kelompok tertentu yang sering dihubungkan dengan vegetarian. Misalnya saja kelompok yang hanya makan buah dan produk pohon tanpa daun-daunan (semua bahan makanan yang bisa dikumpulkan tanpa melukai tanaman, disini mereka tidak makan daun maupun batang karena akan mengganggu pertumbuhan tanaman), kelompok vegetarian yang juga menghindari tanaman-tanaman bumbu seperti bawang dan rempah-rempah, ada juga vegetarian yg masih makan produk hewan tertentu (ikan, produk non daging merah) dan sebagainya.
Vegetarian sebenarnya tidak hanya menghindari makan makanan hewani saja. Untuk seorang vegan, yang merupakan vegetarian tingkat tertinggi, produk-produk yang mengandung bahan-bahan hewani sudah pasti dihindari. Jadi jangan harap seorang vegan mau memakai mantel bulu, dompet kulit buaya, makan kapsul yang dibungkus gelatin ata u memakai lotion yang punya komposisi bagian tubuh hewan.
Memang benar peternakan mempunyai sumbangan yang besar atas emisi gas rumah kaca.

The UN Food and Agriculture Organization (FAO) has estimated that direct emissions from meat production account for about 18% of the world’s total greenhouse gas emissions. So I want to highlight the fact that among options for mitigating climate change, changing diets is something one should consider.

— Rajendra Pachauri ,Chairman, Intergovernmental Panel on Climate Change

Tapi saya juga masih belum tahu apakah gaya vegetarian total ini akan bijaksana. Memang tanpa produk hewani pun kebutuhan protein, serat dan zat-zat yang dibutuhkan lainnya masih akan terpenuhi. Tetapi saya masih ragu, bukankah hewan juga ciptaan Allah yang patut kita manfaatkan sebaik-baiknya. Saya rasa pernyataan ketua IPCC itu bukan untuk menghapus keseluruhan konsumsi produk-produk peternakan akan tetapi itu merupakan sebuah himbauan untuk mempertimbangkan pengurangan produk-produk hewani yang memang lebih rawan menimbulkan penyakit pada umat manusia. Mungkin saja tingkat penggunaan produk peternakan sudah tidak bijaksana sehingga produksinya sudah mencapai tingkat penyumbang emisi gas rumah kaca yang tinggi.

Spirited Away

•January 2, 2010 • Leave a Comment

Waktu di rumah bulan September kemarin sempat menemukan pemandangan yang tidak biasa. Soalnya ketiga adik saya kompak duduk mengaduk-aduk isi bluwy saya untuk mencari sebuah film. Saya perhatikan sebentar ternyata anime judulnya Spirited Away. Memang agak tidak sadar punya film dengan judul tersebut. Awalnya saya tidak peduli, tapi begitu sudah di lampung dan rasa penasaran sama film yang ditonton adik-adik saya itu muncul, saya tonton juga film tersebut.
Ternyata memang benar. Film itu keren sekali. Film ini menang penghargaan Oscar untuk kategori best animated feature dan merupakan anime pertama yang menang Academy Award. Film keren garapan Hayao Miyazaki yang diproduksi studi Ghibli ini menceritakan tentang perjalanan seorang anak perempuan yang bernama Chihiro. Diceritakan awalnya Chihiro dalam perjalanan untuk pindah bersama orang tuanya. Dalam perjalanan mereka tersesat dan ayah Chihiro memutuskan untuk mencari jalan tembus yang mengakibatkan mereka masuk ke sebuah kota hantu. Kota yang aktif di malam hari tersebut berisi kedai-kedai makan dan sebuah pemandian umum. Petualangan Chihiro mulai seru ketika malam tiba dan dia menemukan kedua orang tuanya telah berubah menjadi babi akibat memakan makanan di kota hantu tersebut. Untuk menyelamatkan orang tuanya, Chihiro bekerja di pemandian untuk para dewa yang dimiliki oleh Yubaba, nenek sihir jahat yang suka mencuri nama. Diceritakan jika seorang manusia melupakan namanya maka dia akan terjebak di kota hantu tersebut untuk selamanya. Dalam petualangannya Chihiro bertemu Haku yang ternyata dewa sungai tempat Chihiro pernah terjatuh sewaktu kecil. Bersama-sama mereka melakukan rangkaian perjalanan  menemui Zeniba kembaran Yubaba yang sangat membantu dalam perjalan Chihiro. Akhirnya Chihiro dapat menyelamatkan kedua orang tuanya dan dirinya sendiri dari kota hantu. Kemudian mereka meneruskan perjalanan untuk pindah ke rumah baru mereka.
Film ini bagus. Kalau rating tertinggi adalah 10 maka saya berani memberikan nilai 9 untuk film ini. Artworknya sangat keren dan ide yang dituangkan menurut saya sangat orisinil. Segmen pasarnya memang untuk anak kecil jika melihat dari cerita dan fitur-fitur makhluk yang ada di dalamnya, tapi saya yakin orang dewasa pun akan bisa menikmati cerita dalam film ini.

•December 14, 2009 • Leave a Comment

Pemimpin dan Anak Buahnya

•December 11, 2009 • Leave a Comment

Di suatu hari di awal November saya dapat telpon dari senior. Isi dari pembicaraan telpon itu cukup mengagetkan saya. Bagaimana tidak, dari pembicaraan itu saya dapat tendangan untuk segera beralih ke warehouse workshop untuk sementara mengisi kekosongan kepala seksi yang sedang naik haji. Nah kata saya, padahal lagi asyik-asyiknya ngantor di irigasi. Tapi karena memang tugas ya saya jalani juga. Kikuk juga pertama kali ngantor di warehouse, mana orangnya pada ngaret semua makanya di hari pertama cukup ada pemandangan yang menyedihkan, si officer warehouse nongkrong di atas filter bekas nunggu pintu kantornya dibuka. Hari-hari pertama feel like hell lah (ini jelas berlebihan, he he he). Bukan, maksud saya masih belum bisa apa-apa, semuanya dijelaskan, muka masih sok dimanis-manisin buat ngerebut hati si anak buah. Hari kedua langsung ditodong tumpukan tanda tangan. Wuaduh pikir saya, apa saya sudah siap ambil tanggungjawabnya. Tapi karena tidak ada pilihan lain ya saya tandatangani saja, goblok memang tapi kalau tidak saya tandatangani nanti dokumen-dokumen itu tidak bisa masuk ke accounting sih. Hari-hari selanjutnya sudah mulai terbiasa dengan rutinitas di warehouse, sudah bisa memprogram apa yang mesti dilakukan dan sebagainya. Lumayan buat pengalaman. Sejauh ini sih belum ada masalah sama anak buah, sudah saling ngerti tempat kalau kerja sama senior itu. Tapi ya repotnya karena masih kental adat Jawanya (saya maksudnya), jadi belum terbiasa buat nyuruh-nyuruh atau ngasih perintah bagaimana. Karena memang bukan orang yang galak juga, akhirnya saya pake metodenya Rasul, memberikan contoh yang baik. Misalnya nih, di warehouse workshop lagi ada program cleaning. Program itu rutin dilakukan tiap hari mengambil 1 jam kerja. Jadi para mekanik workshop itu biasanya kecewa kalau mau rajin-rajin minta spare part di pagi hari. Pekerjaannya bervariasi dari membersihkan rak, menyapu, mengepel, membersihkan sarang laba-laba dan sebagainya. Saya kan ceritanya selama si bapak pergi jadi kepala gudangya ni, dari situ saya mulai menggunakan wewenang untuk memaksa dengan halus orang-orang gudang untuk memulai program cleaning. Jadi pagi hari ketika sudah dibuka biasanya pada ngobrol dulu, nah saya sudah masuk ambil sapu atau kuas buat nyapu atau ngebersihin rak. Kan mereka jadi risih, masak yang diatasnya aja mau nyapu kok mereka enggak. Nah akhirnya program cleaning jalan dengan sendirinya lama-lama. Hal itu pun berlaku untuk masalah kebersihan rak. Awalnya mana ada yang mau pake kuas buat bersihin debu dari bin card atau kardus spare part. Tapi karena saya ngotot tetep bersihin itu rak tiap pagi, akhirnya mereka sudah jalan sendiri. Kebiasaan ini berlangsung sampai suatu pagi saya dapat tambahan tenaga dari warehouse fuel. Banyak pula tambahan tenaganya, ada sekitar 7 orang. Memang datangnya tidak bersamaan karena masih ada yang ambil cuti, tapi bersamaan dengan lengkapnya personil tenaga tambahan itu, kebiasaan saya diprotes.
“Bu, kok ikut nyapu”
“Lho kan saya memberi contoh”
“Ya nggak gitu bu, sudah yang bersih-bersih biar kami saja ibu tinggal lihat-lihat saja, kan ibu bosnya”
Hooh. Melongo saya dalam hati, ada ya anak buah yang seperti ini. Awalnya sih saya pikir-pikir dia ada benarnya juga. Sebenarnya saya ini kan tinggal perintah saja. Memang kalau bos saya di irigasi juga dulu main perintah-perintah saja. Anak buahnya langsung jalan. Tapi itu kan di irigasi, di lapangan. Tentunya beda dong iklim kerja di lapangan dengan di warehouse yang orang-orang operasional tetapi masih kantoran. Iya kalau di lapangan memang harus main perintah keras untuk menjaga wibawa, tapi kalau di kantor seperti warehouse ini menurut saya yang perlu dilakukan yang pertama ya mengambil hati orang-orang lama. Biar nanti kerjaan bisa lancar dan hubungan personal di kantor juga baik. Kalau di awal-awal langsung keras mungkin yang ada nantinya cuma konflik yang tidak selesai-selesai. Apalagi sudah masuk hal-hal pribadi dibawa ke pekerjaan. Wah tidak selesai tujuh turunan itu, yang ada cuma pada merasa paling benar, tidak ada yang mau mengalah. Setelah bisa mengambil hati, baru sedikit-sedikit kita mulai bisa meminta anak buah untuk mengerjakan suatu pekerjaan dengan permintaan yang masih sangat sopan (mengingat orang baru). Nah baru lama-lama setelah terasa “feel kita ini bos” kita bisa mulai main perintah, main marah bila kerjaan tidak beres.

Buat Kamu yang Bosan Cari Duit Melulu ….

•November 27, 2009 • Leave a Comment

Pagi-pagi tanggal 24 November 2009 saya sudah ngabur ke kantor administrasi. Rencananya sih mau cari tanda tangan bos. Sampai di ruang belakang saya melihat suatu pandangan yang mencurigakan. Sebut saja Enjijora (bukan nama sebenarnya). Teman yang sudah bareng sejak 5 tahun yang lalu. Tiba-tiba saja dia kasih suatu bungkusan. Hooh apa ini pikir saya. Oh ternyata hadiah ulang tahun yang sempat tertunda. Atas permintaan Enjijora sendiri, saya tidak membukanya di depan dia. Dari bentuknya saya sudah bisa menebak isinya apa. Tapi karena belum tahu si bungkusan ini jenisnya apa, saya jadi penasaran. Sebenarnya mau dibuka setelah sampai di rumah. Tetapi karena kadung penasaran ya saya buka saja waktu bersiap-siap pulang. Reaksi pertama saya adalah tertawa ngakak. Seandainya saja tidak ingat saya sekarang sudah punya anak buah langsung pasti saya sudah guling-guling sambil pegang perut. Isinya buku seperti yang semua orang bisa tebak, tetapi yang bikin saya ngakak adaah judulnya. Seperti menyindir saya begitu. Judulnya buku buat kamu yang bosan cari duit melulu, to bee or not to bee, lebah yang bosan mencari madu. Wah ini enjijora berniat bermain-main dengan hati saya, pikir saya. Tetapi saya sangat berterimakasih karena hadiah yang sangat saya itu. Teman tersayang saya itu tahu bahwa saya suka buku berwarna dengan penyampaian yang santai tapi dalam makna. Buku ini sangat direkomendasikan untuk orang-orang yang suka memanjakan matanya dengan gambar lucu yang berwarna-warni namun tidak kehilangan isinya yang sarat akan makna. Saya belum selesai membacanya tetapi dengan tampilan yang menarik dan jaminan dari makna yang dalam, saya bersemangat untuk membaca buku ini sampai selesai. Apalagi ditambah judulnya yang sangat menyindir.

 

Lets Laugh !!!!

•November 27, 2009 • 2 Comments

2012

•November 26, 2009 • 2 Comments

Waktu main ke Palembang sempat juga melihat film yang jadi heboh karena banyak kalangan yang menentang penayangan film ini. Film ini dibuat oleh Rolland Emmerich yang kabarnya seorang Yahudi. Sebenarnya, melihat bagaimana tidak timurnya film-film keluaran Hollywood, saya yang sangat menjunjung adat timur ini males melihatnya. Tetapi karena pilihannya hanya ikut nonton atau jalan tak tentu arah di Palembang Indah Mall sendirian, ya akhirnya saya memutuskan untuk mencoba memaknai, kalau-kalau memang ada makna yang bisa diambil dari film ini. Nah, ketika disambut dengan suara yang membahana dari film tersebut, mau tidak mau hati ini pasti kaget. Tapi memang pantas diakui bahwa visual effect dari film tersebut patut diacungi jempol. Apalagi bagian yang menunjukkan bencana yang hebat dalam film tersebut. Jika saja yang melihat bisa menghayati bahwa manusia itu hanyalah setitik kecil dibandingkan dengan kuasa Allah, maka saya rasa hal itu akan menyentuh sekali untuk kesehatan hati. Selain makna akan kebesaran kekuasaan Allah yang saya dapatkan dari film sekuler tersebut, saya juga merasa betapa egoisnya ide yang ditanamkan dalam film tersebut. Bagaimana tidak, orang yang selamat 99 % adalah orang yang punya duit. Sangat kontras sekali dengan salah satu ide yang muncul dalam film tersebut bahwa dimulainya dunia baru harus dengan dilandasi rasa kemanusiaan. Bagi saya, justru rasa kemanusiaan itu dihilangkan oleh tingginya ciri khas kapitalisme dalam film tersebut. Jika untuk bisa menyelamatkan diri untuk meneruskan peradaban saja anda harus mengeluarkan 1 milyar euro, maka yang bisa saya lihat dalam film tersebut hanyalah suatu bentuk penjajahan. Yang punya uang dan kekuasaan yang akan menang. Yang besar menindas yang kecil. Memang ada beberapa orang perkecualian yang bisa meneruskan peradaban walaupun dari masyarakat biasa. Tetapi berapa banyakkah masyarakat seperti itu. Hanya sebagian kecil saja. Mungkin 1 %. Mengenai konsep kiamat yang ada dalam film tersebut, saya rasa itu hanyalah strategi untuk meningkatkan oplah film ini. Saya hanya melihat adanya bencana besar di bumi, saya tidak melihat kiamat. Kiamat itu tidak ada seorangpun yang selamat. Di dalam film itu, yang selamat dan masih hidup banyak. Apalagi sarana penyelamatan dengan kapal (yang tentunya dengan konstruksi futuristik) dari banjir besar yang melanda dunia. Saya jadi tambah berpikir bahwa film ini hanyalah sebuah film yang terinspirasi oleh peristiwa Noah’s Ark (Kapal Nabi Nuh). Hanya saja tentunya didramatisir disana-sini untuk menimbulkan efek “wah”nya. Sedangkan mengenai ramalan suku Maya yang mengatakan bahwa di 12 Desember 2012 akan terjadi kiamat, saya sih tidak percaya. Mana ada orang di dunia ini yang bisa meramalkan kiamat setepat itu. Tapi setidak-tidaknya film tersebut masuk kategori lumayan jika dijadikan hiburan di akhir minggu untuk orang-orang yang sudah paham.

Kondangan ke Palembang

•November 25, 2009 • Leave a Comment

Awalnya sih sudah merasa nggak mungkin ikut ke Palembang buat kondangan di tempat senior, soalnya mesti STO medical sampai km 19. Tapi setelah beberapa pertimbangan akhirnya bisa ikut juga ke Palembang dengan tetap sukses membawa data STO dari km 1/9 dan 19. Pulang dari kerja hari sabtu tanggal 21 November 2009 langsung siap-siap. Sekitar jam 14.30 mobil sewaan datang, kemudian berangkatlah kami melewati jalan lintas timur Sumatra. Perjalanannya kurang menyenangkan karena persiapan yang tidak bagus. Tapi setidak-tidaknya banyak hal baru yang bisa diambil dari perjalanan ini. Yang pertama, jadi banyak melihat rumah-rumah orang asli Lampung. Sayang nggak sempat ambil foto karena terlalu sibuk mengomentari bagaimana rumah-rumah itu tidak amblas padahal menahan beban berat diatasnya tambahan lagi tiang-tiang penyangga di bawahnya hanya kayu kecil-kecil. Bahkan tiang penyangganya banyak yang sudah miring. Setelah deretan rumah-rumah khas Lampung yang berjejer di pinggir jalan, yang ada selama perjalanan hanya hutan. Mencoba menikmati perjalanan melewati hutan-hutan tersebut, tapi karena membosankan akhirnya memutuskan untuk tidur saja. Sampai di Palembang sekitar jam 8 malam. Eh ini malah teman-teman ngajakin nonton. Waduh yang jam malam. Capeknya badan ini. Apalagi paginya mesti pergi ke kondangan. Benar saja, ditempat kondangan rasanya sudah pengen menutup mata saja. Tapi ya dipaksa melek, menghormati senior yang mau nikah. Datang pas acara akad nikah, terharu juga sambil membayangkan bagaimana rasanya jika besok mesti aku sendiri yang dinikahkan, wah pasti sudah nangis-nangis. Beberapa waktu setelah akad, dilanjutkan acara pesta pernikahan. Pesta pernikahannya adat Palembang. Mana pakai ucapan pantun-pantun segala. Sudah begitu ada acara tarian Tanggai yang memang ada di upacara pernikahan adat Palembang. Selepas dari kondangan diputuskanlah main-main ke beberapa tempat di Palembang. Mengingat waktu yang terbatas, hanya sempat main-main ke Jembatan Ampera, foto-foto di Benteng Kuto Besak trus makan empek-empek di Candy. Setelah makan empek-empek kami semua pergi salat ke Masjid Agungnya Palembang. Selesai salat, bersiap-siap untuk pulang. Di perjalanan pulang ini memilih untuk minum antimo biar bisa tidur jadi nggal terlalu capek esok harinya ketika mesti berangkat kerja.

Namanya Juga Novel

•November 18, 2009 • 2 Comments

Salah seorang teman beberapa waktu yang lalu memberikan komentar di status facebook saya. Dalam komentarnya beliau menyinggung tentang sebuah novel yang settingnya di pabrik gula zaman inlander. Maksudnya zaman penjajahan Belanda. Maklum saja saya kan manusia kebun tebu dan pabrik gula, jadi beliau selalu saja mengait-kaitkan saya dengan gula. Nah, saya jadi tergelitik untuk mencari resensi atau tulisan apapun mengenai novel ini di internet. Ketemu dan saya baca. Oh ternyata begini tho, novelnya salah satu novel romantis Islami. Saya baca pendapat-pendapat yang ada mengenai novel ini. Memang banyak sekali yang bilang bagus tapi saya menemukan satu pendapat yang cukup berbeda dan menurut saya cukup berani (saya memang cuma membaca beberapa pendapat saja). Walau saya baru menemukan satu pendapat yang lumayan nyleneh dari pendapat yang lain tapi dari situ saya bisa sedikit mengerti arah novel ini kemana. Ternyata ya memang novel begitu. Salah satu nilai yang ditekankan ya masalah jodoh. Sepertinya saya melihat novel ini happy ending sama seperti novel-novel pendahulunya dalam kluster pencarian jodoh dan yang berhubungan dengan cinta yang marak akhir-akhir ini. Selalu saja sempurna. Akhirnya si tokoh protagonis mendapatkan seseorang yang memang the one. Yah bukannya apa-apa, hanya saja saya melihat jenis novel seperti ini cenderung memang gayanya seperti itu. Si tokoh ada rasa bagaimana begitu sama tokoh yang lain disana yang kebanyakan sempurna, nah di akhir cerita mereka akan bersama. Ya kebanyakan begitu. Pikir saya “kok ya sempurna banget hidupnya, dapet orang yang ditaksir yang kebetulan naksir juga sudah begitu caranya Islami banget”. Memangnya ada ya hidup sesempurna itu untuk orang kebanyakan. Ya saya yang orang kebanyakan dan belum dapat jodoh ini kan jadi iri, he he he. Tapi setelah saya berpikir kebanyakan novel ini settingnya sungguh sempurna saya jadi ingat perkataan teman saya yang saat ini berada nun jauh disana. Kita kembalikan lagi ke definisi apa itu novel. Dari wikipedia disebutkan bahwa novel adalah “a long prose narrative set out in writing” sebuah prosa narasi panjang dalam tulisan. Disebutkan juga bahwa yang membedakan novel dengan sejarah adalah keterlibatan unsur fiksi dan ditampilkan dan bentuk narasi. Hal itulah yang membedakan novel dengan sejarah. Sejarah merupakan gambaran dari fakta-fakta yang ada berdasarkan urutan narasi namun memiliki tujuan mendidik yang dalam hal ini tidak bisa ditemukan dalam novel. Novel bisa jadi menggambarkan berbagai macam realitas sosial, politik ataupun personal dengan murni dan detil yang tidak mungkin tereksplorasi oleh sejarah. Novel diharuskan untuk menunjukkan kualitas literatur dan sastra sedangkan sejarah sebaliknya diharuskan ditulis untuk mengompori debat publik atas tanggungjawab yang berhubungan dengan kejadian yang terjadi di masa lalu. Itulah mengapa novel bisa bertalian dengan sejarah akan tetapi dengan pandangan tanpa nilai waktu, novel seharusnya memang diperuntukan untuk pembaca personal sebagai hasil kerja seni.  Adanya keterlibatan unsur fiksi dan semua keterangan yang saya dapatkan ini membuat  saya maklum. Ya memang begitu adanya. Semuanya tergambar sempurna, namanya saja novel.